Dapur keliling Dompet Dhuafa akan datangi pengungsi pelosok Sulteng

Palu (ANTARA News) – Layanan Dapur Keliling (Darling) dari lembaga nirlaba Dompet Dhuafa akan mendatangi wilayah pelosok di Sulawesi Tengah untuk menemui pengungsi yang belum terjamah dan masih kesulitan bantuan makanan akibat bencana. 

“Fokus dapur keliling adalah menjelajah ke tempat pengungsian untuk menemui korban gempa bumi dan Tsunami yang hari ini masih kesulitan mendapatkan bantuan makanan,” kata koordinator Darling Dompet Dhuafa Priyanto saat ditemui di Posko Induk, Palu, Senin. 

Ia mengatakan, dapur keliling yang modelnya seperti foodtruck (mobil yang dilengkapi perlengkapan memasak) telah tiba di Pelabuhan Panopolo, Palu pada pukul 15.00 WITA, Minggu. 

Mobil makanan itu sebelumnya harus menjalani perjalanan selama empat hari empat malam dari Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, dan transit di Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan. 

“Untuk titik pasti penyebaran darling akan menunggu hasil penilaian dari tim survei,” tambah Priyanto seraya menegaskan, Dapur Keliling merupakan salah satu upaya Dompet Dhuafa untuk memenuhi kebutuhan pangan para korban. 

Di samping Dapur Keliling, Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi Imam Rulyawan mengatakan pihaknya akan membangun tiga unit dapur umum di lokasi bencana. 

“Dua dapur umum akan dibangun di Kabupaten Sigi, dan satu sisanya di Kota Palu,” sebut Imam di Palu, Senin. 

Di samping dapur keliling dan dapur umum, lembaga amal tersebut juga berencana membangun 50 hunian sementara di Desa Lolu, Kabupaten Sigi. 

“Desainnya rumah ini tahan gempa, sebutannya RRG, Rumah Ramah Gempa. Sebagaimana rumah pada umumnya, huntara juga dilengkapi dengan ruang tidur, ruang tamu, dan teras,” kata Imam seraya menegaskan rumah tersebut akan diberikan gratis pada warga Desa Lolu.

Rumah tersebut akan dibangun di lahan seluas dua hektar yang diwakafkan sementara oleh warga, salah satu korban gempa. 

“Huntara ini akan dibangun di tanah milik Pak Samteng, seorang tokoh masyarakat, ketua RW di Desa Lolu. Ia akan mewakafkan tanahnya selama lima tahun untuk pembangunan Huntara,” terang Imam. 

Gempa bumi dan gelombang Tsunami menghantam Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong, dan Kabupaten Donggala, Jumat (28/9). Hingga saat ini, jumlah korban mencapai 1.649 jiwa, dan sekitar 70 ribu warga tengah bertahan di pengungsian. 

Di tengah masi berjalannya proses evakuasi, pasar mulai kembali beroperasi di beberapa wilayah Kota Palu, diantaranya Pasar Manonda di Jalan Kacang Panjang, Palu Tengah, dan Pasar Mombasa. Di samping itu, listrik pun juga sudah dapat diakses di sejumlah tempat di Kota Palu.  

Baca juga: Tim Pemprov DKI siapkan dapur umum di Palu
Baca juga: Kemensos buka tujuh dapur umum di Palu
Baca juga: Kemensos mobilisasi dapur umum untuk Donggala-Palu

Pewarta: Genta Tenri Mawangi
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2018